Ketika Haji hanya sekedar predikat semata

ka'bah

Sering timbul pertanyaan dalam hati saya…
Bagaimana *sebagian* orang dapat dengan sangat bangganya memamerkan predikat keHajiannya, sedangkan sikap mereka tidak mencerminkan akan hal tersebut.

Bahkan banyak sekali orang, entah itu Bapak-bapak ataupun Ibu-ibu yang marah jika tidak dipanggil dengan sebutan Bapak Haji Fulan, atau Ibu Haji Fulan…

Bagaimana dengan Rasulullah? Kenapa Beliau tidak disebut Haji Muhammad? Beliaupun pernah menunaikan ibadah haji bukan? Begitu pula dengan Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, Abu Bakar? kita pun tak pernah mendengar nama mereka didahului dengan tulisan Haji

Mungkin predikat haji dan hajjah hanya buatan orang Indonesia semata.

Bahkan kasus yang terjadi sekarang, sebagian orang sengaja melaksanakan haji untuk kepentingan pribadinya (dengan niat yang buruk). Contohnya saja seseorang yang dengan sengaja mempertunjukkan bahwa dia itu seorang haji, untuk mendapatkan kursi di pemerintahan (dipilih dalam pemilu), seorang pejabat yang demi bisnisnya menyogok orang lain dengan paket haji/ umroh, ataupun orang yang berkali-kali naik haji namun dengan tujuan hanya untuk mendapatkan status sosial semata *riya* (agar dia dihormati sebagai seorang yang memiliki kekayaan berlimpah), atau hanya sekedar ingin disebut dengan predikat H atau Hj di depan namanya. Bahkan, pernahkah anda mendengar bahwa, banyak para hajj yang sengaja mencari wangsit di Baitullah (na’udzubillah) dengan menggunting kain penutup ka’bah (kiswah) untuk dijadikan sebagai jimat?

kiswah

Hal ini mangingatkan saya akan sebuah film yang berjudul emak ingin naik haji


yang diangkat dari sebuah novel karya Asma Nadia , bercerita tentang perjuangan seorang ibu tua pembantu rumah tangga dan anak lelakinya untuk bisa menunaikan haji. Selain itu ada juga ada salah satu film Perancis yang direkomendasikan oleh salah seorang Sahabat saya, Jhonalessac Bangun Sukma, yang berjudul Le grand voyage


kisah perjalanan Ayah dan anak mengendarai mobil melintasi benua Eropa menuju ke Tanah suci untuk menunaikan ibadah haji.
Salah satu dialog yang sangat menyentuh hati saya adalah ketika sang anak bertanya pada ayahnya.
”Mengapa Ayah tidak naik pesawat terbang saja ke Makkah? Ini akan lebih mudah.”
Sang ayah terdiam sejenak. ”Air laut baru akan kehilangan rasa pahitnya setelah ia menguap ke langit,” jawabnya.
”Apa?”
”Ya, begitulah air laut menemui kemurniannya.
Ia harus mengangkasa melewati awan. Inilah mengapa lebih baik naik haji berjalan kaki ketimbang naik kuda. Lebih baik naik kuda ketimbang naik mobil. Lebih baik naik mobil ketimbang naik perahu. Lebih baik naik perahu ketimbang naik pesawat terbang…”

Kedua kisah yang tertuang dalam 2 film tersebut sangatlah menginspirasi saya… sarat akan makna, dan mengajarkan betapa hakikat ibadah haji yang sesungguhnya

Perlu kita ketahui bahwa Nabi Besar kita Muhammad, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam, hanya 1x melaksanakan ibadah haji sepanjang hayatnya. Tentunya, jika Beliau mau, Beliau memiliki kesempatan berhaji sebanyak 3 kali. Beliau juga punya ratusan bahkan ribuan kesempatan berumrah, tetapi berumrah sunah hanya dua kali. Sementara itu, kaum Muslimin berkeinginan berhaji setiap tahun dan berumrah setiap bulan.

Ibadah haji rukun Islam yang ke-5, dan salah satu kewajiban dalam Islam, berdasarkan al-Quran, as-Sunnah dan ijma’ kaum Muslimin.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

“…Mengerjakan haji itu adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (ke-wajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali ‘Imran: 97)

Dan Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:

بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَ إيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَ صَوْمِ رَمَضَانَ وَ حَجِّ الْبَيْتِ الْحَرَامِ

“Islam dibangun di atas lima perkara; bersaksi bahwasanya tiada Ilah yang haq kecuali Allah, dan bersaksi bahwasanya Muhammad adalah Rasul utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah.” (Hadits shahih riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Tak ada 1 ayat atau hadist pun yang mengutamakan melaksanakan haji berkali-kali, namun memang tidak ada salahnya jika seseorang yang mampu lahir dan batin serta materi lebih untuk melakukan haji berkali-kali, tetapi hal yang sangat mendasar adalah bagaimana NIAT seseorang itu melaksanakan haji.

Hal yang terkadang terlintas dalam benak saya :
Apakah tidak sebaiknya UANG BERLEBIH tersebut kita infaq-kan untuk menghajikan orang lain yang memang sangat ingin berhaji namun tidak memiliki kecukupan materi untuk menunaikannya, pergi ke Tanah suci. Tentunya hal ini akan jauh lebih mulia, toh kita pun sudah pernah melaksanakan haji (tentunya jika dilaksanakan dengan sepenuh hati, Lillahi ta’ala)…

*titatitadidinding*

8 responses to this post.

  1. Posted by soseko on April 10, 2010 at 12:32 PM

    nais inpo.

    Reply

    • Posted by titatitadidinding on April 10, 2010 at 12:47 PM

      yahhh tanggapannya apa kang?

      Reply

      • Posted by soseko on April 10, 2010 at 11:04 PM

        itu kan udah tanggapannya..

        kalau mau yang lebih panjang ini:
        hmm. artikel yang bagus. menambah motivasi saya untuk menjadi orang kaya. agar bisa menghajikan banyak orang.. amiin

      • Posted by titatitadidinding on April 11, 2010 at 9:29 AM

        hahaha gitu ya kang (doh)

        amin ya Rabb…
        mksih yo kang🙂

  2. Posted by mumu on April 10, 2010 at 8:28 PM

    like this tit,,
    mantap kaliii…

    Reply

  3. Posted by shooool..... on April 10, 2010 at 9:49 PM

    hmm,,
    blog baru ya ta??
    mw kasih komen dkit ah,..hhe
    sbagai penulis senior,dan sudah menelurkan banyak karya2 best seller baik nasional maupun internasional,..aq mencoba menganalisa setiap huruf,kata,kalimat dan paragraf dari tulisan tita.. (hha, blagu )
    hey ta, tuh tulisan haji’y salah,,malah d tulis “hajj” ( ga pnting ya ) =)
    ..
    kyanya punya bkat terpendam niy.
    .
    kata2’y gmpang di cerna alias merakyat,ga rebet,,(pertahankan)
    contoh2’y juga sesuai sama keadaan skarang,jd ga perlu putar otak dlu bwt mengerti mksudnya,..hhe
    sgitu aja deh,,kan td janjinya mw ksih komen dkit doank,.. hhay

    Reply

    • Posted by titatitadidinding on April 11, 2010 at 9:28 AM

      hehehe sebenernya udah lamaaa banget, tapi gak keurus

      iya hajj, tapi orang indonesia kan bilangnya haji😛

      ok, mksih yo🙂

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: