kebohongan besar holocaust : sebagai alasan yahudi menguasai Palestine

Anti-Semit, atau sikap anti-Yahudi tengah  menimpa bangsa Yahudi. Secara serentak, masyarakat dunia menyatakan penolakan terhadap bangsa yang satu ini.

Krisis ekonomi global turut pula mempengaruhi, bahkan Yahudi dituding sebagai penyebab semua kekacauan yang ada sekarang ini.

Dari segala hujatan dan penolakan itu, Yahudi kembali menggunakan lagu lama untuk membela dirinya; Holocaust. Apa itu Holocaust?

Holocaust adalah peristiwa pemusnahan hampir seluruh Yahudi Eropa oleh Nazi Jerman dan kelompoknya selama Perang Dunia II. Orang Yahudi sering menyebut peristiwa ini sebagai Shoah, istilah Ibrani yang berarti malapetaka atau bencana hebat. Holocaust sendiri berasal dari bahasa Yunani, holo yang artinya seluruh, dan caustos yang berarti terbakar.

Secara asal, holocaust artinya adalah persembahan api atau pengorbanan religius dengan pembakaran. Konon, Nazi Jerman dipercaya telah memusnahkan sekitar 5,6 sampai 5,9 juta orang Yahudi, setidaknya angka inilah yang selalu didengung-dengungkan dan dikampanyekan  oleh Yahudi.

Holocaust tidak lepas dari kebencian Jerman kepada Yahudi. Perang Dunia I (PD I) menyisakan Jerman sebagai pecundang, dan Jerman tanpa tedeng aling-aling menyebut Yahudi sebagai pengkhianat yang membuat negara Bavarian itu hancur. Hal itu diperkuat dengan kejadian pada akhir PD I, sekelompok Yahudi mengobarkan revolusi ala Bolshevik Soviet di negara bagian Jerman, Bavaria.

Kontan, Yahudi dianggap sebagai bangsa yang berbahaya. Ketika Nazi naik panggung politik, kebijakan yang menekan Yahudi pun diterapkan. Hak-hak Yahudi dicabut, harta benda mereka disita, rencana untuk mengusir mereka keluar Jerman dirancang, sampai, konon, pemusnahan fisik yang berarti pembantaian.

Musim semi 1941, Nazi mulai membantai Yahudi di Uni Soviet yang dianggap sebagai sumber hidup Bolshevisme.

Orang Yahudi disuruh menggali lubang kubur mereka sendiri, kemudian ditembak mati. Musim gugur tahun yang sama, Nazi meluaskan pembantaian ke Polandia dan Serbia.

Kamp pembantaian untuk Yahudi mulai dibangun di Auschwitz, Dachau, Bergen-Belsen. Kamp itu dilengkapi kamar gas dan tungku besar. Mereka menggunakan kamar gas untuk membunuh orang Yahudi. Beberapa orang Yahudi dimasukkan ke dalam kamar gas, kemudian gas Zyklon-B, sebuah gas pestisida berbahan dasar asam hidrosianik, dialirkan.

Tapi apa memang seperti itu?

Pada 1964, Paul Rassinier, korban holocaust yang selamat, menerbitkan The Drama of European Jews yang mempertanyakan apa yang diyakini dari Holocaust selama ini. Dalam bukunya, ia mengklaim bahwa sebenarnya tak ada kebijakan pemusnahan massal oleh Nazi terhadap Yahudi, tak ada kamar gas, dan jumlah korban tidak sebesar itu.

Arthur Butz menulis The Hoax of the 20th Century: The case against the presumed extermination of European Jewry pada 1976. Ia mengklaim bahwa gas Zyklon-B tidak digunakan untuk membunuh orang tapi untuk proses penghilangan bakteri pada pakaian.

Winston Churchill menulis 6 jilid karya monumentalnya, The Second World War, tanpa menyebut tentang program Nazi untuk membantai orang Yahudi. Eisenhower menulir memoarnya, Crusade in Europe, juga tak menyebut tentang kamar gas.

Mengenai kematian massal di Auschwitz, Robert Faurisson, profesor literatur di University of Lyons 2 mengklaim tipus-lah yang membunuh para tawanan itu, sama sekali bukan kamar gas. Seorang ahli konstruksi dan instalasi alat eksekusi dari AS, Fred Leuchter, pergi ke Auschwitz dan mengadakan penyelidikan serta tes di tempat itu.

Kesimpulannya adalah kamar gas di Auschwitz tidak mungkin digunakan untuk membunuh orang. Setelah orang-orang ini mempertanyakan kebenaran holocaust, gelombang kritisasi dan penyangkalan terhadap apa yang terjadi di holocaust mulai bangkit. Mereka yang meragukan kebenaran holocaust ini menyebut dirinya sebagai revisionis.

Memang betul, Nazi memperlakukan Yahudi demikian buruk, kejam, dan bengis. Nazi pernah memberlakukan pencabutan hak-hak Yahudi, penawanan di ghetto, kerja paksa, penyitaan harta benda dan deportasi dari Jerman.

Namun, sampai saat ini, tak pernah ditemukan satupun dokumen atau masterplan tentang pemusnahan Yahudi di Eropa. Satu lagi, Jerman juga dengan secara tegas menyatakan bahwa jumlah 5,9 atau 6 juta korban merupakan kebohongan.

Kamar gas memang ditemukan di Auschwitz. Namun, para revisionis mengklaim bahwa kamar gas beserta Zyklon-B tidak mungkin digunakan untuk eksekusi manusia, melainkan untuk pengasapan pakaian agar bakteri-bakteri di pakaian mati. Dari prosedur kesehatan inilah, mitos pembunuhan dengan kamar gas muncul.

Museum Auschwitz, museum tentang holocaust, selama 50 tahun mengklaim bahwa 4 juta manusia dibunuh di sana. Sekarang mereka malah mengklaim mungkin hanya 1 juta korban. Revisi klaim ini pun tidak didukung oleh dokumentasi 1 juta orang tersebut. Hal yang penting lagi adalah jika memang ada pembunuhan massal di Polandia terhadap Yahudi tentu Palang Merah, Paus, pemerintah sekutu, negara netral, pemimpin terkemuka waktu itu akan tahu dan menyebutnya dan mengecamnya.

Yahudi tentu saja mengambil keuntungan dari kebohongan besar mereka ini. Mereka yang merasa menjadi korban kemudian menuntut tanah Palestina, terus meminta ganti rugi kepada Jerman, dan meminta dana pembangunan dari negara lain, dan senantiasa memelihara isu Holocaust. Tak pelak lagi, Israel selalu bersembunyi di balik Holocaust atas semua aksi keji dan biadabnya.

Sumber

beautiful Duas by Ahmad saud

Jika ingin mendownload MP3-nya *disini*

doa ini biasanya diucapkan ketika khatam Al-qur’an. Pada lembar terakhir Al-Qur’an, biasanya disisipkan doa tersebut. Sebenarnya ada banyak versi doa khatam qur’an, berikut hanyalah salah satunya saja.


NAMUN apakah doa khatam qur’an itu disyariatkan???

Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rohimahulloh ditanya akan hukum doa khatam qur’an tersebut.

untuk lebih jelasnya lihat *sumber*

Beberapa kesimpulan yang dapat ditarik dari sumber diatas berkaitan dengan hukum doa khatam qur’an adalah sebagai berikut:

1. Membaca doa secara umum adalah sesuatu yang disyariatkan, baik di luar sholat maupun di dalam sholat.

2.    Tidak ada perselisihan tentang bolehnya membaca doa khatam al-Qur`an di luar sholat, bahkan hal itu termasuk perkara yang disukai.

3.    Tidak ada perselisihan tentang bolehnya membaca doa khatam al-Qur`an di dalam sholat

4. Tidak ada keterangan khusus tentang doa yang dibaca ketika mengkhatamkan al-Qur`an, sehingga berdoa dengan doa-doa yang mudah dibaca. Bahkan mengkhususkan suatu doa tertentu pada suatu kesempatan tertentu, harus berdasarkan dalil yang sah. Tanpa ada dalil, maka pengkhususan hal tersebut bisa tergolong ke dalam perkara baru dalam agama (BID’AH)

dari point nomer 4. terlihat bahwa tidak ada dalil yang menjelaskan doa khusus setelah khatam Al-qur’an…

terlepas dari itu semua, doa khatam quran pada video diatas dengan Qari Ahmad saud memiliki arti yang sangat indah. NAMUN sekali lagi perlu digaris bawahi, bahwa *tidak ada pengkhususan doa setelah khatam Al-qur’an*.

wallahu a’lam bishowwab


Berikut adalah terjemahan dalam Bahasa Indonesia dari video diatas:

Ya Allah, dengan Al-Qur’an anugerahkanlah kasih sayang-Mu kepadaku,

Jadikanlah Al-qur’an sebagai imam, cahaya, petunjuk, serta rahmat bagiku

Ya Allah, ingatkanlah aku apabila ada ayat yang aku melupakannya

Berilah aku pengetahuan, sesuatu yang aku tidak mampu memahaminya

Karuniakan aku kesempatan untuk senantiasa membacanya diwaktu malam, maupun siang hari

Jadikanlah Al-qur’an sebagai hujjah bagiku, Wahai Rabb semesta alam

Ya Allah perbaikilah urusan agamaku, Yang ia merupakan pangkal urusanku

Berilah aku kebaikan dunia, Yang ia merupakan tempat kehidupan kami

Berilah aku kebaikan akhirat, Yang ia merupakan tempat kembaliku

Jadikanlah kehidupanku senantiasa bertambah dalam segala kebaikan,

Dan kematianku menjadi akhir dari segala keburukan

Ya Allah, jadikan umur terbaikku di penghujungnya

Dan amal terbaikku pada penutupnya

Dan hari-hari terbaikku pada hari ketika aku bertemu dengan-Mu

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu,

Kehidupan yang menyenangkan, kematian yang normal, tempat kembali yang tidak hina dan menyedihkan

Ya Allah aku memohon kepada-Mu permohonan yang terbaik, doa terbaik, kesuksesan terbaik, ilmu terbaik, amal terbaik, pahala terbaik, kehidupan terbaik, kematian terbaik, Kokohkanlah aku, beratkanlah timbangan kebaikanku, kuatkan imanku, tinggikan derajatku, terimalah sholatku, ampunilah segala kesalahanku, dan aku memohon kepada-Mu surga tertinggi

Ya Allah aku memohon kepada-Mu rahmat yang layak Engkau berikan, dan ampunan yang pantas Engkau berikan, keselamatan dari segala dosa, manfaat dari setiap kebaikan, kebahagiaan dengan mendapat surga, dan selamat dari siksa neraka

Ya Allah, anugerahkanlah kesudahan terbaik dalam segala urusan kami, dan selamatkanlah kami dari segala kehinaan dunia dan siksa akhirat

Ya Allah anugerahkanlah kami rasa takut kepada-Mu, yang menjadi penghalang antara kami dengan kemaksiatan kepada-Mu,

Dan karuniakan kami ketaatan kepada-Mu yang bisa menyampaikan kami kepada surga-Mu,

Dan berikan pula kami keyakinan (kepada-Mu) yang bisa meringankan kami menghadapi segala musibah dunia,

Dan anugerahkanlah kenikmatan pada pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama Engkau masih menghidupkan kami, dan jadikanlah ia warisan dari kami,

Berikanlah balasan, atas orang-orang yang telah mendzalimi kami, berilah kami pertolongan atas orang-orang yang memusuhi kami,

Janganlah Engkau berikan musibah kepada kami dalam urusan agama kami,

Janganlah Engkau jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar kami dan puncak pengetahuan kami,

Janganlah Engkau berikan kami penguasa dari orang-orang yang tidak mengasihi kami

Ya Allah janganlah Engkau tinggalkan dosa atas kami, melainkan Engkau mengampuninya

Tidaklah Engkau beri kesusahan, melainkan Engkau berikan jalan keluarnya

Tidaklah ada hutang, melainkan Engkau membayarnya

tidaklah ada kebutuhan dari segala macam kebutuhan dnia dan akhirat, melainkan Engkau memenuhinya

Yaa Arhamarraahimiin

Wahai Rabb kami, berikan kami kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhirat, dan selamatkanlah kami dari siksa neraka

Ya Allah limpahkanlah shalawat atas Nabi Muhammad, keluarga, serta para sahabat semuanya


Subhanallah… indah sekali ya🙂


jika anda ingin mendownload surat lainnya dari ahmad saud silahkan klik pada nama suratnya!

al muzzamil

at tuur

ar rahman 1-16

78. an naba dan 79. An naazi’at

Al buruj

At tariq

Al a’la

Al ghasiyah

Al fajr

Al balad

Asy syams

Al lail

Ad duha

Ash sharh

At tiin dan al ‘alaq

At tiin

Al ‘alaq

Al qadr

Al bayyinah

Az zalzalah

Al’adiyat

Al qari’ah

At takatsur

Al ‘asr

Al humazah

Al fil

Quraish

Al ma’un

Al kautsar

Al kafirun

An nasr

Al masad

Al ikhlas

Al falaq

An nas

Al furqon 67-77

Al ahzab 1-17

Al ahzab

Yasiin 1-12

Qaaf 1-15 *sumber download*

*titatitadidinding*

Qaswa Unta Betina Rasulullah dan Masjid Nabawi

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam memberi nama unta-nya dengan nama QASWA, which means ‘to cover long distance’… Sesuai dengan namanya ini, Rasullullah Shalallahu ‘alaihi wassallam hanya menunggangi Qaswa, jika Beliau melakukan perjalanan yang jauh. Pada saat berhijrah dari Mekkah ke Madinah-pun Rasulullah mengendarai Qaswa. Pada waktu itu, Kaum Bangsawan Anshar berlomba-lomba menawarkan tempat tinggal kepada Beliau, namun dengan bijaksana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam berkata bahwa dimanapun unta betinanya (Qaswa) memutuskan untuk berhenti, maka disitulah Beliau akan membangun tempat tinggal. Lokasi tersebut, semula adalah tempat penjemuran buah kurma milik anak yatim dua bersaudara Sahl dan Suhail bin ‘Amr, yang kemudian dibeli oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam untuk dibangunkan tempat kediaman Beliau dan sebuah masjid yang sekarang kita kenal dengan nama Masjid Nabawi المسجد النبوي‎ … (masjid ke-2 yang dibangun oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam, setelah sebelumnya masjid Quba).


Masjid Nabawi dibangun pada Tahun 1 Hijriyah (September, 662 M). Batu pertama dalam pembuatan masjid, diletakkan sendiri oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam, dan selanjutnya batu ke-2, 3, 4, dan 5 oleh para Sahabat (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali).

Pada awal pembangunannya, masjid Nabawi hanya berukuran sekitar 50 m × 50 m, dengan tinggi atap sekitar 3,5 m. Tembok di keempat sisi masjid ini terbuat dari batu bata dan tanah. Atapnya dari daun kurma dan tiang-tiang penopangnya dari batang kurma. Sebagian atapnya dibiarkan terbuka begitu saja. Selama sembilan tahun pertama, masjid ini tanpa penerangan di malam hari. Hanya di waktu Isya, diadakan sedikit penerangan dengan membakar jerami/ pelepah kurma.
Kediaman Rasul sendiri, dibangun melekat pada salah satu sisi masjid, namun kediaman Beliau tidaklah lebih mewah dari keadaan masjidnya, hanya saja lebih tertutup. Ada pula bagian masjid yang digunakan oleh para fakir-miskin yang sekarang dikenal sebagai ahlussufah atau para penghuni teras masjid.

Masjid Nabawi mengalami berbagai perbaikan, perbaikan pertama dilaksanakan pada Tahun ke-4 Hijriyah, dimana lantainya dibangun dengan batu bata.
Pada tahun 1265 H (pemerintahan Sultan Abdul Majid), masjid Nabawi dibangun hingga memakan waktu 12 Tahun. Dinding dan tiang-tiang masjid dipercantik dengan ukiran dan kaligrafi indah yang masih bisa disaksikan sampai sekarang.

Raja Fahd bin Abdul aziz juga turut andil dalam perluasan Masjid Nabawi. Alhasil, luas seluruh bangunan masjid sekarang ini menjadi 165.000 m2. Jumlah menarapun bertambah, dari semula empat buah menjadi 10 buah. Empat diantaranya mamiliki ketinggian 72 meter dan enam lainnya setinggi 92 meter. Jumlah pintu juga bertambah sehingga menjadi 95 buah, serta 27 kubah

Kini masjid yang telah mengalami berkali-kali renovasi itu tampak begitu megah dan indah. Luasnya pun sangat menakjubkan, sekitar 298.000 m2. Masjid itu berdiri tegak menghadap selatan, arah kiblat. Dengan area yang begitu luas, lantai dasar Masjid Nabawi mampu menampung 257.000 jama’ah. Sedang lantai atas, yang luasnya 67.000 m2, dapat menampung 90.000 jama’ah. Jika disatukan dengan halamannya, Masjid Nabawi normalnya dapat menampung 650.000 jama’ah. Tapi pada musim haji dan bulan Ramadhan, lebih dari satu juta jama’ah.

Keutamaannya dinyatakan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam., sebagaimana diterima dari Jabir rhadiyallahu ‘anhu. (yang artinya):
“Satu kali shalat di masjidku ini, lebih besar pahalanya dari seribu kali shalat di masjid yang lain, kecuali di Masjidil Haram. Dan satu kali shalat di Masjidil Haram lebih utama dari seratus ribu kali shalat di masjid lainnya.”
(Riwayat Ahmad, dengan sanad yang sah)

Diterima dari Anas bin Malik bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda (yang artinya):
“Barangsiapa melakukan shalat di mesjidku sebanyak empat puluh kali tanpa luput satu kali shalat pun juga, maka akan dicatat kebebasannya dari neraka, kebebasan dari siksa dan terhindarlah ia dari kemunafikan.”(Riwayat Ahmad dan Thabrani dengan sanad yang sah)

Dari Sa’id bin Musaiyab, yang diterimanya dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda (yang artinya):
“Tidak perlu disiapkan kendaraan, kecuali buat mengunjungi tiga buah masjid: Masjidil Haram, masjidku ini, dan Masjidil Aqsa.” (Riwayat Bukhari, Muslim dan Abu Dawud)

Sumber:

sigalayan-multazam

wikipedia

namology

majalah-alkisah

ISLAM… agama yang benar atau yang paling benar?

I Love Islam

Dulu… kurang lebih 3 tahun yang lalu ketika saya baru saja masuk kuliah (mahasiswa baru), salah seorang pementor saya melemparkan pertanyaan tersebut kepada saya dan teman-teman yang lain.

Islam itu agama yang benar atau yang paling benar?

Sebuah pertanyaan yang sangat singkat dan to the point. Cukup simple dengan jawaban yang cukup simple pula, namun dengan penjabaran yang sangat kompleks.

Ketika itu… jawaban terbanyak adalah *Islam agama yang paling benar*… termasuk pula jawaban yang saya berikan.

Pementor saya menanyakan kembali kepada kami, “apakah benar Islam itu agama yang paling benar? Coba adik-adik pikirkan kembali!”

Yang ada dalam pikiran saya kala itu, jika pementor saya bertanya dengan pola kalimat tersebut, menandakan jawaban yang kami berikan adalah salah.

Pementor saya pun menjelaskan bahwa jawaban kami memang salah besar.


Islam adalah agama yang benar, bukan yang paling benar


Mungkin, dulu ketika kita SD sampai SMA bahkan hingga bangku perkuliahan, dalam pelajaran PPKN/ Pkn/KWn kita didoktrin bahwa semua agama itu sama. Dalam ujian pun pasti kita akan menjawab bahwa semua agama itu sama (benar)…

Sejak kecil secara tidak sadar, kita diajarkan untuk menjadi seorang yang munafik…

kenapa saya mengatakan demikian?

Saya yakin, dalam hati masing-masing pemeluk agama, agama mereka lah yang benar (hingga akhirnya kenapa mereka memeluk agama yang mereka yakini tersebut bukan agama yang lainnya)

Bagi umat Islam (dalam hal ini, saya pun seorang Muslim), Allah Subhanahu wa ta’ala mengingatkan kita bahwa:

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. QS. 3:19

Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi. QS. 3:85

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. QS. 3:102


Ayat – ayat diatas secara jelas tertulis dalam Al-qur’an, menjelaskan kepada kita bahwa agama Islam adalah agama yang benar. Islam pun mengajarkan kita untuk berkasih sayang karena Islam adalah rahmatan lil’alamin.

  • “islam” berasal dari bahasa arab yaitu “sailama” yang dimasdarkan menjadi “islaman” yang berarti damai.
  • ‘rahmatan” kata Bahasa Arab yaitu “rohima” yang dimasdarkan menjadi “ rahmatan’ yang artinya kasih sayang.
  • Al-alamin” adalah kata bahasa Arab yaitu “alam” yang dijama’kan menjadi “alamin” yang artinya alam semesta yang mencakup bumi beserta isinya.

Maka yang dimaksud dengan Islam Rahmatan Lil’alamin adalah

Islam yang kehadirannya ditengah kehidupan masyarakat mampu mewujudkan kedamaian dan kasih sayang bagi manusia maupun alam. (sumber : dinul Islam)


Bagiku agamaku, bagimu agamamu


Selama kita (antar pemeluk beragama) dapat saling menghormati, dan tidak mencampuradukkan agama, saya yakin semua agama dapat hidup berdampingan dan akan tercipta kedamaian.

*titatitadidinding*

Ketika Haji hanya sekedar predikat semata

ka'bah

Sering timbul pertanyaan dalam hati saya…
Bagaimana *sebagian* orang dapat dengan sangat bangganya memamerkan predikat keHajiannya, sedangkan sikap mereka tidak mencerminkan akan hal tersebut.

Bahkan banyak sekali orang, entah itu Bapak-bapak ataupun Ibu-ibu yang marah jika tidak dipanggil dengan sebutan Bapak Haji Fulan, atau Ibu Haji Fulan…

Bagaimana dengan Rasulullah? Kenapa Beliau tidak disebut Haji Muhammad? Beliaupun pernah menunaikan ibadah haji bukan? Begitu pula dengan Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, Abu Bakar? kita pun tak pernah mendengar nama mereka didahului dengan tulisan Haji

Mungkin predikat haji dan hajjah hanya buatan orang Indonesia semata.

Bahkan kasus yang terjadi sekarang, sebagian orang sengaja melaksanakan haji untuk kepentingan pribadinya (dengan niat yang buruk). Contohnya saja seseorang yang dengan sengaja mempertunjukkan bahwa dia itu seorang haji, untuk mendapatkan kursi di pemerintahan (dipilih dalam pemilu), seorang pejabat yang demi bisnisnya menyogok orang lain dengan paket haji/ umroh, ataupun orang yang berkali-kali naik haji namun dengan tujuan hanya untuk mendapatkan status sosial semata *riya* (agar dia dihormati sebagai seorang yang memiliki kekayaan berlimpah), atau hanya sekedar ingin disebut dengan predikat H atau Hj di depan namanya. Bahkan, pernahkah anda mendengar bahwa, banyak para hajj yang sengaja mencari wangsit di Baitullah (na’udzubillah) dengan menggunting kain penutup ka’bah (kiswah) untuk dijadikan sebagai jimat?

kiswah

Hal ini mangingatkan saya akan sebuah film yang berjudul emak ingin naik haji


yang diangkat dari sebuah novel karya Asma Nadia , bercerita tentang perjuangan seorang ibu tua pembantu rumah tangga dan anak lelakinya untuk bisa menunaikan haji. Selain itu ada juga ada salah satu film Perancis yang direkomendasikan oleh salah seorang Sahabat saya, Jhonalessac Bangun Sukma, yang berjudul Le grand voyage


kisah perjalanan Ayah dan anak mengendarai mobil melintasi benua Eropa menuju ke Tanah suci untuk menunaikan ibadah haji.
Salah satu dialog yang sangat menyentuh hati saya adalah ketika sang anak bertanya pada ayahnya.
”Mengapa Ayah tidak naik pesawat terbang saja ke Makkah? Ini akan lebih mudah.”
Sang ayah terdiam sejenak. ”Air laut baru akan kehilangan rasa pahitnya setelah ia menguap ke langit,” jawabnya.
”Apa?”
”Ya, begitulah air laut menemui kemurniannya.
Ia harus mengangkasa melewati awan. Inilah mengapa lebih baik naik haji berjalan kaki ketimbang naik kuda. Lebih baik naik kuda ketimbang naik mobil. Lebih baik naik mobil ketimbang naik perahu. Lebih baik naik perahu ketimbang naik pesawat terbang…”

Kedua kisah yang tertuang dalam 2 film tersebut sangatlah menginspirasi saya… sarat akan makna, dan mengajarkan betapa hakikat ibadah haji yang sesungguhnya

Perlu kita ketahui bahwa Nabi Besar kita Muhammad, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam, hanya 1x melaksanakan ibadah haji sepanjang hayatnya. Tentunya, jika Beliau mau, Beliau memiliki kesempatan berhaji sebanyak 3 kali. Beliau juga punya ratusan bahkan ribuan kesempatan berumrah, tetapi berumrah sunah hanya dua kali. Sementara itu, kaum Muslimin berkeinginan berhaji setiap tahun dan berumrah setiap bulan.

Ibadah haji rukun Islam yang ke-5, dan salah satu kewajiban dalam Islam, berdasarkan al-Quran, as-Sunnah dan ijma’ kaum Muslimin.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

“…Mengerjakan haji itu adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (ke-wajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali ‘Imran: 97)

Dan Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:

بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَ إيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَ صَوْمِ رَمَضَانَ وَ حَجِّ الْبَيْتِ الْحَرَامِ

“Islam dibangun di atas lima perkara; bersaksi bahwasanya tiada Ilah yang haq kecuali Allah, dan bersaksi bahwasanya Muhammad adalah Rasul utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah.” (Hadits shahih riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Tak ada 1 ayat atau hadist pun yang mengutamakan melaksanakan haji berkali-kali, namun memang tidak ada salahnya jika seseorang yang mampu lahir dan batin serta materi lebih untuk melakukan haji berkali-kali, tetapi hal yang sangat mendasar adalah bagaimana NIAT seseorang itu melaksanakan haji.

Hal yang terkadang terlintas dalam benak saya :
Apakah tidak sebaiknya UANG BERLEBIH tersebut kita infaq-kan untuk menghajikan orang lain yang memang sangat ingin berhaji namun tidak memiliki kecukupan materi untuk menunaikannya, pergi ke Tanah suci. Tentunya hal ini akan jauh lebih mulia, toh kita pun sudah pernah melaksanakan haji (tentunya jika dilaksanakan dengan sepenuh hati, Lillahi ta’ala)…

*titatitadidinding*

Monetisasi Perdesaan Melalui Subsidi Tunai

Memberikan subsidi tunai untuk pemenuhan daya beli kepada masyarakat miskin adalah penting, tetapi tidak lengkap kalau tidak disertai dengan subsidi tunai untuk modal, solusi, dan pendampingan usaha produktif. Asumsinya, Indonesia yang menganut welfare state, tidak memiliki jaminan bahwa dengan BLT warga negaranya yang miskin dan menganggur segera mendapat pekerjaan.
Adalah fakta, sebagian besar orang miskin di Indonesia memiliki sikap yang haus pemenuhan nafsu konsumsinya, yang menurut Rogers merupakan salah satu dari sepuluh ciri subkultur orang miskin. Oleh karena itu, sikap tersebut harus digeser ke arah yang lebih hemat, lebih efektif, dan produktif yaitu sikap yang mampu menangguhkan pemenuhan nafsu konsumsinya sebagai wujud antisipasi terhadap ganjaran di masa yang akan datang.

Subsidi bagi kaum miskin adalah wajib, karenanya jangan dicaci apalagi dihentikan. Selanjutnya, tinggal bagaimana kita mau dan mampu menggeser pengelolaan subsidi (terutama BLT) dari hanya sekadar konsumtif ke aktivitas produktif. Salah satu gagasan alternatifnya, subsidi harus menjadi katalis dan stimuli untuk membangun keakraban masyarakat miskin dengan bank dalam arti produktif, tidak lagi mengambil kredit untuk konsumtif, tetapi membudayakan menyimpan dan mengelola uang untuk usaha produktif berkelanjutan.

Weisblat dan Wharton mengistilahkannya dengan membangun monetisasi masyarakat, yang berarti proses melepaskan kaum miskin dan petani dari pelepas uang dalam memenuhi modalnya, terutama di perdesaan. Monetisasi diyakini sebagai faktor ekonomi yang sangat menentukan dalam perubahan sosial, terutama di perdesaan, di samping transportasi dan komunikasi.

Menurut Guru Besar Ekonomi Pertanian Unpad, Burhan Arief, tidak terjadinya monetisasi di perdesaan menyebabkan tidak adanya investasi yang mendorong peningkatan nilai tambah produk agro dan penyerapan tenaga kerja. Akibatnya, migrasi tak terkendali. Monetisasi perdesaan sudah diterapkan di Indonesia, misalnya kredit usaha tani (KUT), namun bersifat linear (kucuran), parsial, dan bias rekayasa sosial. Akibatnya, usaha tani yang lebih baik tercapai tanpa diikuti peningkatan nilai tambah. Oleh karena itu, pendistribusian subsidi (termasuk BLT) harus dimodifikasi menjadi tabungan yang biaya pengurusan dan administrasinya digratiskan atau ditanggung/disubsidi pemerintah daerah, seperti pemprov di luar Jawa menyubsidi biaya transportasi BLT ke daerah terpencil. Gagasan transformasi subsidi harus diarahkan untuk pemberdayaan kaum miskin.

Dalam merumuskan usaha macam apa yang harus dikembangkan, bergantung kepada:
(1) potensi dan kreativitas lokal;
(2) daya dukung (integrasi) inovasi, dan kreativitas eksternal, termasuk industri kreatif yang berkembang di perkotaan
(3) peran pendamping yang kuat karsa, penuh daya cipta, berdaya juang, bermental wirausaha dan berakhlak, yang berperan dalam memotivasi, memediasi, dan memfasilitasi integrasi usaha kaum miskin dengan berbagai sumber inovasi, kreativitas, dan rantai-rantai bisnis positif.

Membangun perilaku hemat melalui menabung, terutama di bank, bukan perkara mudah, membutuhkan penyadaran, penyuluhan, dan pendampingan. Akan tetapi jika berhasil, otomatis akan menanamkan citra dan persepsi positif masyarakat perdesaan terhadap bank. Sudah selayaknya bank menjadi agent of development, yang bermutu, lebih praktis, terbuka, dan partisipatif dalam mengefektifkan alokasi pengambilan dan merangsang penyimpanan.

Melalui monetisasi diharapkan dapat mendorong akumulasi kapital di perdesaan sehingga pendapatan dapat dirasakan dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan kaum miskin perdesaan. Tentunya, perlu dilakukan uji coba dalam skala kecil (misalnya di Jabar), baik sisi kelayakan, desain operasi, mekanisme pendistribusian, prosedur administrasi, kelembagaan, peng organisasian, dan pengawasan (termasuk dari lembaga independen).

Sistem Monetisasi Bidang Pertanahan di Pedesaan

Konflik tanah yang terjadi dalam masyarakat pedesaan dipengaruhi oleh merebaknya sistem monetisasi, dimana sistem monetisasi ini merebak seiring dengan adanya kebijakan ekonomi Belanda yakni dengan sistem kultivasi. Akibat dari introduksi kebijakan tersebut maka munculah sistem penguasaan pengolahan tanah, introduksi sistem pajak, serta dibukanya perdagangan bebas dengan luas negeri. Dengan adanya sistem monetisasi tersebut para buruh menerima gaji langsung dari pekerjaannya, kemudian harta pencaharian menjadi lebih penting ( Kahn, 1975, 1976, Dobbin 1977 dalam Backmann, 1979)

Menurut Hasan (1989) meluasnya gejala monetisasi mengakibatkan terjadinya perubahan dari sektor pertanian subsistensi ke sektor pertanian komersil. Di sini tanah tidak hanya bernilai sosial, tapi juga bernilai ekonomis. Di samping itu gejala monetisasi juga ditandai dengan munculnya para pedagang, adanya kegiatan menjual jasa, munculnya tenaga buruh upahan, dan anak-anak muda dianjurkan pergi merantau. Interaksi yang dilakukan dengan masyarakat lain memunculkan nilai-nilai baru bagi perantau. Karena itu tanah-tanah pusaka pun banyak yang dijual karena masyarakatnya beranggapan tanah tersebut bernilai ekonomi.

Bagi masyarakat yang hidup di pedesaan, tanah mempunyai nilai yang sangat strategis .Karena begitu pentingnya nilai tanah tersebut bagi masyarakat yang hidup dipedesaan tersebut telah terjadi perebutan tanah tersebut. Dalam perebutan tanah tersebut konflikpun tidak bisa dielakkan. Berbicara masalah konflik yang terjadi biasanya adalah antara penduduk pendatang dengan penduduk asli tidak terlepas dari kedatangan penduduk pendatang yang tidak melalui prosedur adat yang berlaku di daerah tersebut (ada serangkaian tata cara atau prosedur yang harus dilalui oleh penduduk pendatang) terutama dalam hal mendapatkan hak pakai tanah yakni dengan membuat perjanjian untuk memenuhi semua peraturan adat di daetah yang bersangkutan. Prosedur tersebut tidak dilaksanakan oleh penduduk pendatang, malahan mereka datang kedaerah tersebut dengan cara diam-diam guna membuka hutan tersebut. Ada beberapa faktor penyebab terjadinya konflik yang terjadi. Pertama, kekaburan batas tanah tanah . Kedua karena adanya pembangunan sektor perkebunan itu sendiri yang memprogramkan tentang perluasan areal tanaman. Ketiga, ikatan keluargaan atau kekerabatan, dimana ikatan tersebut terlihat sangat kuat diantara kalangan masyarakat. Hal ini tidak dapat kita pungkiri sifat masyarakat pedesaan yang tidak terlepas dari kuatnya ikatan tersebut. Keempat, adanya pengaruh sistem monetisasi pada masyarakat.

Sebagai sebuah permasalah, konflik sesungguhnya harus di selesaikan dengan baik. Konflik telah diselesaikan melalui berbagai macam proses macam proses penyelesaian. Konflik yang terjadi tersebut hanya diselesaikan lewat lembaga informal saja yakni dengan jalan mengikutsertakan serta keterlibatan tokoh masyarakat dalam penyelesaiannya. Ada beberapa hal yang menyebabkan hal tersebut terjadi yakni karena keenganan masyarakat untuk menempuh jalur hukum baik karena alasan prosedurnya maupun masalah biayanya serta mereka tidak akrab dengan hal tersebut. Hal tersebut seiring dengan pendapat Benda –Beckmann (2000) mengatakan bahwa orang-orang pedesaan tidak begitu akrab dengan cara kerja pengadilan.

*dari berbagai sumber*